Suntikan Modal untuk Menopang Usaha Kecil

Kerap dipandang sebelah mata. Namun, faktanya usaha mikro kecil menengah (UMKM) berdampak besar terhadap roda ekonomi nasional.

Kerap dipandang sebelah mata. Namun, faktanya usaha mikro kecil menengah (UMKM) berdampak besar terhadap roda ekonomi nasional. Ide kreatif yang dituangkan dalam sebuah karya mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru.

Di samping itu, berkembangnya inovasi dan teknologi telah menumbuhkan pengusaha-pengusaha baru di sektor UMKM.

Akan tetapi, para pengusaha di sektor UMKM tidak hanya bermodalkan nyali. Seluruh harta benda dipertaruhkan untuk bisa mengembangkan usaha.

Modal, menjadi masalah utama para pengusaha UMKM. Usaha ‘wong cilik’ ini dinilai masih berisiko besar dalam mengangsur kredit. Hal itu membuat penyedia fasilitas pinjaman enggan mengucurkan dana segar ke sektor itu.

Pendanaan menjadi masalah krusial bagi sektor UMKM di tengah upaya mendorong eksistensi untuk bersaing dengan produk-produk asing yang kian membanjiri pasar.

Produk UMKM saat dipamerkan dalam acara puncak perayaan Hari UMKM Nasional Tahun 2023 di Pamedan Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (12/8/2023)/KemenKopUKM
Produk UMKM saat dipamerkan dalam acara puncak perayaan Hari UMKM Nasional Tahun 2023 di Pamedan Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (12/8/2023)/KemenKopUKM

Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki menegaskan pemerintah akan terus memberikan keberpihakan nyata bagi eksistensi produk UMKM di pasar nasional menghadapi ancaman serbuan produk-produk asing. 

Untuk itu, Teten meminta perbankan nasional meningkatkan pembiayaan UMKM di sektor produksi untuk memperkuat kapasitas dan kualitas produk, sehingga produk-produk UMKM mampu menguasai pasar dalam negeri.

"Karena, di situlah letak kelemahan UMKM kita, yaitu kurang mendapat dukungan pembiayaan di sektor produksi," kata Teten.

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirangkum oleh Dataindonesia.id, penyaluran kredit perbankan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp1.351,25 triliun hingga akhir 2022. 

Jumlah tersebut meningkat 10,45 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp1.223,43 triliun.

Melihat trennya, penyaluran kredit UMKM cenderung meningkat setiap tahunnya. Penurunan hanya terjadi pada 2020 sebesar 1,81 persen lantaran pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Berdasarkan skala usahanya, penyaluran UMKM paling besar ke usaha mikro senilai Rp532,72 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 39,42 persen dari total kredit yang disalurkan ke UMKM hingga akhir tahun lalu.

Penyaluran kredit ke usaha kecil tercatat sebesar Rp466,71 triliun atau setara 34,54 persen, sedangkan penyaluran kredit ke usaha skala menengah sebesar Rp351,82 triliun atau 26,04 persen.

Produk UMKM yang dipamerkan dalam acara Sinergi Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem Bidang Koperasi dan UMKM di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (20/6/2023)/KemenKopUKM
Produk UMKM yang dipamerkan dalam acara Sinergi Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem Bidang Koperasi dan UMKM di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (20/6/2023)/KemenKopUKM

Adapun, kredit UMKM paling banyak digunakan untuk modal kerja yang sebesar Rp1.015,6 triliun. Jumlahnya lebih besar dari kredit UMKM yang digunakan untuk investasi sebanyak Rp335,6 triliun.

Pada tahun ini pemerintah mengalokasikan Rp450 triliun untuk program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM. Namun, angka itu dikoreksi 50 persen pada pertengahan tahun lalu menjadi Rp297 triliun.

"Sekarang pemerintah sudah bikin kebijakan Rp100 juta tanpa agunan, harapannya perbankan dapat menjalankan program ini dengan baik, sehingga UMKM tidak lagi kesulitan mengakses pembiayaan," kata Teten.

Melalui skema itu, diharapkan pihak perbankan tidak lagi menggunakan skema agunan fisik (aset), melainkan credit scoring dalam menyalurkan kredit UMKM. 

Credit scoring merupakan sistem penilaian kelayakan calon peminjam menggunakan beberapa metriks tertentu. Contohnya seperti jumlah kredit yang pernah dimiliki, kepemilikan beban kredit, dan seberapa sering menunggak pembayaran.

"Tercatat ada 79 persen UMKM yang belum mendapat akses kredit perbankan. Karena, banyak UMKM tidak memiliki aset untuk dijadikan agunan bank," kata Teten.

Di sisi lain, Teten  juga meminta pelaku UMKM untuk mencatatkan kegiatan usahanya secara digital, agar rekam jejak usahanya tercatat dengan baik dan akuntabel. 

Dia meminta agar para pelaku UMKM harus mampu meningkatkan kapasitas usaha dan kualitas produk, agar bisa masuk ke pasar-pasar modern. 

"Harus bisa menciptakan produk-produk baru yang inovatif, serta meningkatkan kualitas produk," ujar Menteri Teten.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI mencatatkan secara grup telah menyalurkan pinjaman kepada 35,4 juta UMKM. Jangkauan nasabah UMKM ini mencakup 11 anak usaha perusahaan.  

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, jangkauan kredit UMKM yang disalurkan perusahaan hampir setara 60 persen dari kontribusi keseluruhan terhadap target pemerintah. Dia mengatakan saat ini dari total nasabah ini setara dengan 80 persen kredit yang disalurkan perusahaan. 

“Kami tiap tahunnya minimal ada 2 juta UMKM yang tergabung, dengan begitu upaya-upaya pemerintah makin meng-accelerate, mempercepat kapasitas dan kapabilitas UMKM Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai informasi, pada kuartal I/2023, BRI membukukan penyaluran kredit pada segmen usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebesar Rp989,6 triliun atau mencapai 83,86 persen dari total kredit yang disalurkan BBRI pada kuartal I/2023.

Adapun terkait rinciannya, pertumbuhan kredit BRI tersebut disokong oleh segmen mikro dengan pertumbuhan mencapai 11,18 persen secara tahunan.  

Rasio penyaluran kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) kuartal pertama 2023 berada di angka 85,26 persen, angka ini turun dari yang sebelumnya 87,14 persen. 

“Kami tak serta merta hanya memberikan pinjaman, kami juga selalu mendampingi dengan mengedukasi soal literasi keuangan. Jadi, pembiayaan dan juga pendampingan ya. Enggak dilepas begitu saja,” ujarnya.